Jane Estherina Fransiska, Panggilan Kemanusiaan Featured

Pelantikan Pengurus Yayasan Kanker Indonesia Cabang Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi momen istimewa bagi dr. Jane Estherina Fransiska, Sp.PD. Apalagi, Jane sebagai dokter spesial penyakit dalam yang selalu berhadapan dengan pasien di RSU Prof Dr WZ Johannes Kupang.

Bagi Jane melayani pasien penyakit dalam hingga sembuh merupakan kebahagiaan tersendiri. Apalagi menolong pasien penyakit dalam yang berasal dari daerah terpencil.
Hal ini dikatakan wanita kelahiran Jakarta 20 Agustus 1977 itu di sela acara pelantikan pengurus Yayasan Kanker Indonesia Cabang NTT di aula rumah jabatan Gubernur NTT, Kamis (17/11/2016).

Jane menuturkan, ketertarikan menekuni spesialis penyakit dalam berawal dari pengalamannya di RSU WZ Johannes Kupang. Jane melihat di bangsal pasien penyakit dalam begitu banyak, sementara dokter sangat sedikit.

"Saya berdoa, kalau Tuhan berkenan, saya ingin menjadi dokter spesialis penyakit dalam untuk memberikan layanan yang lebih baik. Memang saat kecil saya punya cita-cita menjadi arsitek. Setelah dewasa ingin jadi psikolog. Lalu ayah saya bilang, kalau kamu jadi psikolog hanya tangani orang satu sisi jiwanya saja, tetapi kalau kamu jadi dokter kamu bisa sentuh tidak saja penyakitnya, tetapi juga psikisnya. Sosialnya dan kamu bisa jadi berkat yang lebih besar. Pesan ayah saya itu kemudian mendorong saya menjadi dokter penyakit dalam," tutur anak ketiga dari pasangan Pdt. JP Sinaga (almarhum) dan Lebrina S Oemathan.

Tentang kesannya selama berkarya, istri Elbert Manafe, S.E mengaku tertantang ketika menangani ibu muda dari Sabu Raijua. Pasien ini menderita kanker payudara. Dia berasal dari keluarga kurang mampu.

"Yang saya merasa iba bagaimana suami dari si ibu ini begitu semangat berjuang dengan meminta saya bertemu manajemen RSU agar istrinya terobati. Akhirnya puji Tuhan, saya menemui pimpinan agar di RSU perlu ada alat pencampuran obat kemo. Alat itupun dihadirkan dan orang-orang farmasi tidak takut lagi campur obat kemo untuk pasien kanker. Jadi panggilan kemanusiaan yang mendorong saya berkarya," ujar lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) Jakarta.

Ibu dari Josh, Kristiani dan Joel ini mempunyai kiat khusus membagi waktu antara kerja dan keluarga.

"Anak-anak protes, mama ini kayaknya lebih sayang pasien daripada kami. Saya sedih ketika anak-anak omong seperti itu. Makanya saya cari solusi, pelayanan hanya dua rumah sakit, yakni RSUD Prof.Dr. WZ Johannes Kupang dan RS Siloam. Buka praktek juga pelayanan tidak penuh, langgar harinya sehingga ada waktu luang sedikit buat anak-anak seperti hari Sabtu dan Minggu," ujar dokter yang pernah bertugas di Kabupaten Alor tahun 2002-2004.sumber : http://kupang.tribunnews.com/2016/11/20/jane-estherina-fransiska-panggilan-kemanusiaan

Last modified on Tuesday, 06 December 2016 04:38

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.