Dokter Unedo Akui Jadi Dokter Spesialis Itu Sulit Featured

POS KUPANG.COM, KUPANG– Para pasien dan keluarga pasien berantrian di sejumlah ruang poli RSU Prof Dr WZ Johannes Kupang, Rabu (12/7/2017) sekitar pukul 10.00 wita. Mereka menunggu giliran untuk bisa mendapat pelayanan dari dokter dan tenaga medis di poli yang mereka kunjungi.

Suasana seperti ini selalu terlihat setiap hari kerja, ketikapelayanan kesehatan bagi pasien rawat jalan di poli-poli yang ada di RSU tersebut dbuka. Setiap poli ada dokter ahli atau dokter spesialis yang melayani.

Ada poliPenyakitMata, Poli THT, Poli Jantung, Poli Jiwa, Poli Syaraf, Poli Kulit & Kelamin dan lainnya.
Karena begitu banyak pasien yang menunggu pelayanan, maka dokter ahli yang bertugas di poli tersebut tentu menjadi sibuk bekerja.

Hanya beberapa poli seperti poli THT, Poli gigi dan poli THT yang terlihat lebih sedikit jumlah pasiennya jika dibanding poli yang lain.

Beberapa pasien dan keluarga pasien yang ditanya wartawan, mengatakan, untuk mendapat pelayanan tentu harus antrian, karena ada banyak pasien.

Selain itu, lama waktu pemeriksaan atau konsultasi dengan dokter spesialis pun ada yang cepat ada yang lama. Tergantung jenis keluhan.

“Dokter ahli kita masih kurang jadi harus antrian. Kalau tidak dilayani di rumah sakit kita bisa konsultasi ke tempat praktek dokter pada sore atau malam hari,” kata salah seorang pasien penyakit
jantung.

Informasi yang dihimpun di RSU Prof Dr WZ Johannes Kupang menyebut, ramainya pelayanan di poli tergantung banyaknya pasien dengan penyakit tertentu.

Biasanya, penyakit dalam, syarat, jantung, termasuk jenis penyakit yang makin banyak diderita masyarakat. Karena itu jumlah pasiennya cenderung lebih banyak.

Apalagi, rata-rata jumlah dokter spesialis untuk suatu jenis penyakit cuma satu atau dua orang dan dokter spesialis kadang-kadang harus melayani pasien di ruang rawat inap.

Biaya pendidikan dokter spesialis yang mahal bisa menjadi penyebab sedikitnya jumlah dokter ahli di NTT termasuk di RSU Prof Dr WZ Johannes Kupang.

Beberapa dokter spesialis yang ditemui di RSU Prof Dr WZ Johannes Kupang, Rabu (12/7/2017) siang, menolak memberi keterangan atau diwawancara. Alasannya, masih ada pemeriksaan pasien dan sebaiknya wartawan wawancara direktur RSU Prof Dr WZ Johanes Kupang saja.

Sementara dokter spesialis kebidanan dan kandungan, dokter Unedo yang ditemui saat sedang bergegas hendak meninggalkan RSU tersebut, mengatakan, jumlah dokter ahli atau dokter spesialis di RSU Prof Dr WZ Johannes Kupang memang harus terus ditingkatkan.

Karena kebutuhan akan dokter spesialis memang masih tinggi di wilayah NTT termasuk di RSU WZ
Johannes Kupang.

Namun demikian, kata dokter Unedo, untuk bisa melanjutka pendidikan menjadi dokter ahli memang sulit.

Harus memiliki kepintaran dan mampu bersaing dengan para dokter yang lain di seluruh Indonesia karena jatah pendidikan dokter spesialis sedikit tetapi jumlah dokter yang ingin menjadi dokter spesialis sangat banyak.

“Untuk bisa masuk pendidikan spesialis, harus bisa bersaing dengan tema dokter yang lain di seluruh Indonesia. Selain itu, pendidikan dibatasi paling tinggi 35 tahun. Ada lagi tahapan seleksi yang
lainnya. Jadi untuk bisa masuk pendidikan spesialis, seleksinya rumit,” kata dokter Unedo.

Sementara untuk biaya pendidikan dokter spesialis, kata dokter Unedo, bisa melalui beasiswa pemerintah dari Kemenkes, ada juga yang dibiayai sponsor. Kalau yang punya uang sendiri bisa juga biayai sendiri.

Tetapi umumnya dibiayi pemerintah. “Kalau biaya pendidikan dokter spesialis sekitar itulah,” kata dokter Unedo ketika ditanya aakah biaya pendidikan dokter ahli benar mencapai
Rp 500 juta lebih.

Apa yang dikatakan dokter Unedo juga dibenarkan seorang dokter perempuan yang juga dokter spesialis yang s edang bersama dokter Unedo saat diwawancara. Saat diwawancara, dokter Unedo juga sedang bersama Direktur RSU Prof Dr WZ Johannes Kupang, dokter Domi Mere. (*)

sumber :http://kupang.tribunnews.com/2017/07/14/dokter-unedo-akui-jadi-dokter-spesialis-itu-sulit?page=2

Last modified on Monday, 04 December 2017 05:09

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.