Berita Terpopuler

Berita Terpopuler (20)

POS KUPANG.COM, KUPANG– Para pasien dan keluarga pasien berantrian di sejumlah ruang poli RSU Prof Dr WZ Johannes Kupang, Rabu (12/7/2017) sekitar pukul 10.00 wita. Mereka menunggu giliran untuk bisa mendapat pelayanan dari dokter dan tenaga medis di poli yang mereka kunjungi.

Suasana seperti ini selalu terlihat setiap hari kerja, ketikapelayanan kesehatan bagi pasien rawat jalan di poli-poli yang ada di RSU tersebut dbuka. Setiap poli ada dokter ahli atau dokter spesialis yang melayani.

Ada poliPenyakitMata, Poli THT, Poli Jantung, Poli Jiwa, Poli Syaraf, Poli Kulit & Kelamin dan lainnya.
Karena begitu banyak pasien yang menunggu pelayanan, maka dokter ahli yang bertugas di poli tersebut tentu menjadi sibuk bekerja.

Hanya beberapa poli seperti poli THT, Poli gigi dan poli THT yang terlihat lebih sedikit jumlah pasiennya jika dibanding poli yang lain.

Beberapa pasien dan keluarga pasien yang ditanya wartawan, mengatakan, untuk mendapat pelayanan tentu harus antrian, karena ada banyak pasien.

Selain itu, lama waktu pemeriksaan atau konsultasi dengan dokter spesialis pun ada yang cepat ada yang lama. Tergantung jenis keluhan.

“Dokter ahli kita masih kurang jadi harus antrian. Kalau tidak dilayani di rumah sakit kita bisa konsultasi ke tempat praktek dokter pada sore atau malam hari,” kata salah seorang pasien penyakit
jantung.

Informasi yang dihimpun di RSU Prof Dr WZ Johannes Kupang menyebut, ramainya pelayanan di poli tergantung banyaknya pasien dengan penyakit tertentu.

Biasanya, penyakit dalam, syarat, jantung, termasuk jenis penyakit yang makin banyak diderita masyarakat. Karena itu jumlah pasiennya cenderung lebih banyak.

Apalagi, rata-rata jumlah dokter spesialis untuk suatu jenis penyakit cuma satu atau dua orang dan dokter spesialis kadang-kadang harus melayani pasien di ruang rawat inap.

Biaya pendidikan dokter spesialis yang mahal bisa menjadi penyebab sedikitnya jumlah dokter ahli di NTT termasuk di RSU Prof Dr WZ Johannes Kupang.

Beberapa dokter spesialis yang ditemui di RSU Prof Dr WZ Johannes Kupang, Rabu (12/7/2017) siang, menolak memberi keterangan atau diwawancara. Alasannya, masih ada pemeriksaan pasien dan sebaiknya wartawan wawancara direktur RSU Prof Dr WZ Johanes Kupang saja.

Sementara dokter spesialis kebidanan dan kandungan, dokter Unedo yang ditemui saat sedang bergegas hendak meninggalkan RSU tersebut, mengatakan, jumlah dokter ahli atau dokter spesialis di RSU Prof Dr WZ Johannes Kupang memang harus terus ditingkatkan.

Karena kebutuhan akan dokter spesialis memang masih tinggi di wilayah NTT termasuk di RSU WZ
Johannes Kupang.

Namun demikian, kata dokter Unedo, untuk bisa melanjutka pendidikan menjadi dokter ahli memang sulit.

Harus memiliki kepintaran dan mampu bersaing dengan para dokter yang lain di seluruh Indonesia karena jatah pendidikan dokter spesialis sedikit tetapi jumlah dokter yang ingin menjadi dokter spesialis sangat banyak.

“Untuk bisa masuk pendidikan spesialis, harus bisa bersaing dengan tema dokter yang lain di seluruh Indonesia. Selain itu, pendidikan dibatasi paling tinggi 35 tahun. Ada lagi tahapan seleksi yang
lainnya. Jadi untuk bisa masuk pendidikan spesialis, seleksinya rumit,” kata dokter Unedo.

Sementara untuk biaya pendidikan dokter spesialis, kata dokter Unedo, bisa melalui beasiswa pemerintah dari Kemenkes, ada juga yang dibiayai sponsor. Kalau yang punya uang sendiri bisa juga biayai sendiri.

Tetapi umumnya dibiayi pemerintah. “Kalau biaya pendidikan dokter spesialis sekitar itulah,” kata dokter Unedo ketika ditanya aakah biaya pendidikan dokter ahli benar mencapai
Rp 500 juta lebih.

Apa yang dikatakan dokter Unedo juga dibenarkan seorang dokter perempuan yang juga dokter spesialis yang s edang bersama dokter Unedo saat diwawancara. Saat diwawancara, dokter Unedo juga sedang bersama Direktur RSU Prof Dr WZ Johannes Kupang, dokter Domi Mere. (*)

sumber :http://kupang.tribunnews.com/2017/07/14/dokter-unedo-akui-jadi-dokter-spesialis-itu-sulit?page=2

 

Data Jumlah Tempat Tidur RSUD Prof. DR. W. Z. Johannes Kupang Tahun 2016

NO NAMA RUANGAN JUMLAH TT TERPAKAI JUMLAH
PAV KLS 1 KLS II KLS III
1 CENDANA 17       17
2 BOUGENVILE   12     12
3 ASOKA   2 8 6 16
4 ANGGREK   1 16   17
5 KOMODO     24   24
6 TULIP       18 18
6 KELIMUTU       25 25
7 CEMPAKA       28 28
8 EMPATI   1 4 5 10
9 MUTIS   1 2 4 7
10 TERATAI       21 21
11 MUTIS   1 2 4 7
12 EDELWEIS       15 15
13 SASANDO   5 5   10
14 FLAMBOYAN       35 35
15 MAWAR 6 12     18
16 KENANGA     14 25 39
  JUMLAH (1) 23 34 82 173 312
             
  RUANG INTENSIVE          
17 ICU PICU         8
18 ICCU         8
19 NICU         10
20 NHCU         20
  JUMLAH (2)         46
  TOTAL ( 1+2 )         358
TOTAL JUMLAH TEMPAT TIDUR ADALAH = 358 BUAH

 

 

Kebutuhan air di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Prof.WZ Yohannes Kupang sulit terpenuhi. Dengan mengandalkan beberapa sumur bor dan jaringan PDAM, tidak jarang managemen rumah sakit terbesar di NTT itu harus membeli air untuk memenuhi kebutuhan operasional dan juga pasian yang dirawat.

“Kebutuhan kita 60 tenki setiap hari. Solusi kita ada jaringan PDAM tetapi tidak mengalir setiap hari. Sehingga kita coba dengan sumur bor, tetap debitnya terus turus, apalagi kalau musim kemarau,” jelas Direktur RSUD Yohannes, Domi Mere kepada Timor Express usai menerima bantuan Bank NTT peduli berupa satu unit mobil tenki di rumah sakit tersebut, Senin (5/12).

Kebutuhan air sebesar itu menurut dia sangat penting. Pasalnya, saat ini rumah sakit tersebut memiliki 408 tempat tidur semua kelas. Selain itu, ada 1.300 karyawan, termasuk 55 dokter spesialis yang bekerja di sana. Untuk memenuhi kebutuhan air ketika debit air mulai turun, pihaknya harus putar otak.

Namun, dengan bantuan mobil tenki dari Bank NTT, dia mengaku akan sangat terbantu. Pasalnya, dalam waktu dekat akan dilakukan peresmian Gedung Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif (Ponek) yang sudah berdiri tiga lantai di bagian depan rumah sakit tersebut.

“Terpaksa kita harus beli air tenki bisa sampai 35 tenki setiap hari dengan biaya sampai Rp 3,5 juta per hari,” terang Domi di sela-sela acara penyerahan bantuan mobil tenki yang dihadiri langsung Plt.Dirut Bank NTT Eduard Bria Seran dan jajaran itu.

Sementara Eduard Bria Seran pada kesempatan itu mengatakan, pemberian bantuan dari dana CSR Bank NTT itu sebagai bentuk partisipasi Bank NTT terhadap sektor kesehatan di daerah ini. Bank NTT, kata Edi Bria Seran akan selalu siap untuk membantu rumah sakit sesuak kemampuan mereka.

“Kalau ada kegiatan yang diinisiasi oleh direktur rumah sakit, kami siap membantu. Namanya untuk rakyat banyak di NTT, kami kan namanya Bank NTT, jadi kami siap untuk bantu,” kata Edi Bria yang baru menjabat pelaksana tugas Direktur Utama Bank NTT Selasa (29/11) itu.

Bantuan berupa mobil tenki seharga Rp 348 juta itu diharapkan dapat membantu managemen rumah sakit untuk memenuhi kebutuhan air di rumah sakit tersebut. Dia pun berharap ke depan, proses pemberian CSR di setiap kantor cabang harus dikoordinasikan dengan kepala daerah setempat. Hal ini menurut dia penting untuk memastikan bantuan yang diberikan benar-benar tepat sasaran dan tidak mubasir.

“Jadi bantuan ini sebelumnya sudah kami komunikasikan dulu. Tujuannya supaya apa yang kami bantu itu benar-benar bermanfaat untuk mereka yang menerima,” terang Eduard lagi.

sumber : http://timorexpress.fajar.co.id/2016/12/06/rsud-yohannes-butuh-air-60-tenki-sehari/

Pelantikan Pengurus Yayasan Kanker Indonesia Cabang Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi momen istimewa bagi dr. Jane Estherina Fransiska, Sp.PD. Apalagi, Jane sebagai dokter spesial penyakit dalam yang selalu berhadapan dengan pasien di RSU Prof Dr WZ Johannes Kupang.

Bagi Jane melayani pasien penyakit dalam hingga sembuh merupakan kebahagiaan tersendiri. Apalagi menolong pasien penyakit dalam yang berasal dari daerah terpencil.
Hal ini dikatakan wanita kelahiran Jakarta 20 Agustus 1977 itu di sela acara pelantikan pengurus Yayasan Kanker Indonesia Cabang NTT di aula rumah jabatan Gubernur NTT, Kamis (17/11/2016).

Jane menuturkan, ketertarikan menekuni spesialis penyakit dalam berawal dari pengalamannya di RSU WZ Johannes Kupang. Jane melihat di bangsal pasien penyakit dalam begitu banyak, sementara dokter sangat sedikit.

"Saya berdoa, kalau Tuhan berkenan, saya ingin menjadi dokter spesialis penyakit dalam untuk memberikan layanan yang lebih baik. Memang saat kecil saya punya cita-cita menjadi arsitek. Setelah dewasa ingin jadi psikolog. Lalu ayah saya bilang, kalau kamu jadi psikolog hanya tangani orang satu sisi jiwanya saja, tetapi kalau kamu jadi dokter kamu bisa sentuh tidak saja penyakitnya, tetapi juga psikisnya. Sosialnya dan kamu bisa jadi berkat yang lebih besar. Pesan ayah saya itu kemudian mendorong saya menjadi dokter penyakit dalam," tutur anak ketiga dari pasangan Pdt. JP Sinaga (almarhum) dan Lebrina S Oemathan.

Tentang kesannya selama berkarya, istri Elbert Manafe, S.E mengaku tertantang ketika menangani ibu muda dari Sabu Raijua. Pasien ini menderita kanker payudara. Dia berasal dari keluarga kurang mampu.

"Yang saya merasa iba bagaimana suami dari si ibu ini begitu semangat berjuang dengan meminta saya bertemu manajemen RSU agar istrinya terobati. Akhirnya puji Tuhan, saya menemui pimpinan agar di RSU perlu ada alat pencampuran obat kemo. Alat itupun dihadirkan dan orang-orang farmasi tidak takut lagi campur obat kemo untuk pasien kanker. Jadi panggilan kemanusiaan yang mendorong saya berkarya," ujar lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) Jakarta.

Ibu dari Josh, Kristiani dan Joel ini mempunyai kiat khusus membagi waktu antara kerja dan keluarga.

"Anak-anak protes, mama ini kayaknya lebih sayang pasien daripada kami. Saya sedih ketika anak-anak omong seperti itu. Makanya saya cari solusi, pelayanan hanya dua rumah sakit, yakni RSUD Prof.Dr. WZ Johannes Kupang dan RS Siloam. Buka praktek juga pelayanan tidak penuh, langgar harinya sehingga ada waktu luang sedikit buat anak-anak seperti hari Sabtu dan Minggu," ujar dokter yang pernah bertugas di Kabupaten Alor tahun 2002-2004.sumber : http://kupang.tribunnews.com/2016/11/20/jane-estherina-fransiska-panggilan-kemanusiaan

Sesuai rencana, tim Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS) mulai melakukan penilaian terhadap fasilitas dan pelayanan di RSU Prof Dr WZ Johannes Kupang, Selasa (22/11/2016). Saat ini, tim KARS dari Jakarta sudah berada di Kupang.

Demikian informasi yang dihimpun wartawan di RSU Prof Dr WZ Johannes Kupang, Senin (21/11/2016) siang. Hasil penilaian tim KARS akan menjadi dasar untuk menentukan, apakah RSU Prof Dr WZ Johannes Kupang layak menyandang akreditasi versi 2012 atau belum.

Belum diketahui pasti berapa jumlah tim KARS yang diturunkan untuk melakukan penilaian terhadap pelayanan dan fasilitas RSU Prof Dr WZ Johannes Kupang.

Namun, penilaian akan dilakukan terhadap semua hal termasuk meminta pendapat sejumlah pasien atau keluarga pasien terhadap pelayanan di RSU tersebut.

Direktur RSU Prof Dr WZ Johannes Kupang, drg Domi Mere belum berhasil dikonfirmasi mengenai hal ini karena sedang sibuk. Meski demikian, menurut informasi, pihak RSU Prof Dr WZ Johannes Kupang sudah siap menyambut penilaian untuk mendapatkan akreditasi rumah sakit versi 2012.

Sebelumnya, dalam rangka menyambut akkreditasi rumah sakit versi 2012, manajemen RSU Prof Dr WZ Johannes Kupang menggelar kegiatan Education Fair di halaman tengah kompleks RSU tersebut, Selasa (18/10/2016) siang. Education Fair bertujuan memperkenalkan dan menjelaskan tentang tupoksi rumah sakit berdasarkan Akreditasi Versi 2012.

Perwakilan semua bidang, unit dan ruangan yang ada di RSU Prof Dr WZ Johannes Kupang, ikut ambil bagian dalam kegiatan Education Fair dipimpin langsung Direktur RSU Prof Dr WZ Johannes Kupang, drg Domi Mere tersebut. Education Fair atau pameran pendidikan berlangsung cukup semarak.

Kepada wartawan saat itu, Direktur RSU Prof Dr WZ Johannes Kupang, drg Domi Mere didampingi ketua panitia kegiatan Education Fair, Dr. Ita Malewa Sp.PK, menjelaskan, ada 16 pokja yang akan menjadi penilaian KARS. Karena itu, setiap pokja harus mempersiapkan diri dengan baik sehingga mampu menjelaskan dan melaksanakan pelayanan rumah sakit sesuai standar akreditasi versi 2012.

Selain education fair, kata Dokter Domi, pada awal Juli 2016 jajaran manajemen dan tenaga medis serta pegawai RSU Prof Dr WZ Johannes Kupang mendapat bimtek dari Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS), serta mendapat bimtek dari RSU Soetomo Surabaya, Jawa Timur, dan dari rumah sakit lainnya. Akreditasi bertujuan meningkatkan pelayanan dan keselamatan pasien. *

sumber :http://kupang.tribunnews.com/2016/11/21/tim-komisi-akreditasi-rumah-sakit-mulai-lakukan-penilaian-di-rsu-prof-wz-johannes

LAPORAN INDIKATOR MUTU

RSUD PROF.DR.W.Z.JOHANNES KUPANG

PERIODE JULI – OKTOBER 2016

  1. I.INDIKATOR AREA KLINIK
Kode Indikator Standar Waktu

Keterangan

Rekomendasi

Juli Agustus September Oktober
IAK 1 Kelengkapan Asessmen pra bedah 100 % - 25,31 % 74,19 % 75%

Tidak Tercapai

Implementasi PDCA dan MONEV

IAK 2 Waktu Tunggu Hasil Layanan laboratorium di Instalasi Rawat Inap ≤120 menit 108 menit 125 menit 116 menit

148

menit

Tidak Tercapai

Implementasi PDCA dan MONEV

IAK 3 Angka Kejadian Kerusakan Foto dalam Pelayanan Rontgen ≤ 2 % 1,20% 1,52% 1,06% 0

Tercapai

Lanjutkan Upaya peningkatan mutu dan MONEV

IAK 4 Kejadian Infeksi Daerah Operasi (IDO) 0 % 0 2,3 % 4,9 % 0

Tercapai

Lanjutkan Upaya peningkatan mutu dan MONEV

IAK 5 Aspirin diresepkan untuk pasien dengan AMI saat pulang/keluar RS 100 % 100 % 100 % 100 % 100 %

Tercapai

Lanjutkan Upaya peningkatan mutu dan MONEV

IAK 6 Tidak adanya kejadian kesalahan pemberian obat 0 % 0 0 0,001 % 0,003 %

Tidak Tercapai

Implementasi PDCA dan MONEV

IAK 7 Pengkajian pre-anestesi dilaksanakan untuk pasien pra-operasi elektif dengan anastesi umum 100 % - 51,89% 70,96% 85%

Tidak Tercapai

Implementasi PDCA dan MONEV

IAK 8 Pemenuhan Kebutuhan darah bagi setiap pelayanan transfusi 100 % 100 % 100 % 100 % 100 %

Tercapai

Lanjutkan Upaya peningkatan mutu dan MONEV

IAK 9 Ketepatan pengembalian rekam medis 2x24 jam sejak setelah pasien selesai pelayanan rawat inap 100 % 24,27% 27 % 21% 13%

Tidak Tercapai

Implementasi PDCA dan MONEV

IAK 10 Angka Kejadian Decubitus gr II / lebih akibat perawatan di RS 0 4,125 ‰ 1,562 ‰ 0 12,048 ‰

Tidak Tercapai

Implementasi PDCA dan MONEV

IAK 11 Kelengkapan ethical clerence seluruh subyek penelitian klinis - - - - - Belum ada penelitian klinis dalam kurun waktu Juli – Okrober 2016 -
  1. II.INDIKATOR AREA MANAJEMEN
Kode Indikator Standar Waktu

Keterangan

Rekomendasi

Juli Agustus September Oktober
IAM 1 Tidak terealisasinya pengadaan obat kemoterapi 0 Terlampir

Tidak Tercapai

Implementasi PDCA dan MONEV

IAM 2 Ketepatan waktu pengiriman laporan kegiatan pelayanan HIV di RSUD Prof. DR. W. Z. Johannes Kupang ke DINKES Kota & DINKES Provinsi 100 % 100 % 100 % 100 % 100 %

Tercapai

Lanjutkan Upaya peningkatan mutu dan MONEV

IAM 3 Kejadian pulang sebelum dinyatakan sembuh ≤ 5 % 1,71 % 1,87 % 0,73 % 0

Tercapai

Lanjutkan Upaya peningkatan mutu dan MONEV

IAM 4 Waktu tunggu pelayanan CT- Scan dengan kontras ≤ 3 hari 73% 93% 91% 100%

Tercapai

Lanjutkan Upaya peningkatan mutu dan MONEV

IAM 5 Survei Kepuasaan pelanggan eksternal - 90% (Sangat Puas)

Tercapai

Lanjutkan Upaya peningkatan mutu dan MONEV

IAM 6 Survei Kepuasan pelanggan internal - 95% (Sangat Puas)

Tercapai

Lanjutkan Upaya peningkatan mutu dan MONEV

IAM 7 Tren 10 besar diagnosis pada rawat inap - terlampir

Tercapai

Lanjutkan Upaya peningkatan mutu dan MONEV

IAM 8 Cost Recovery Rate 40 % 46% 50% 63% -

Tercapai

Lanjutkan Upaya peningkatan mutu dan MONEV

IAM 9 Peralatan ukur medis yang terkalibrasi tepat waktu sesuai ≥ 80 %

Tahun 2015 : 94,19 %

Tahun 2016: belum selesai proses

Tercapai

Lanjutkan Upaya peningkatan mutu dan MONEV

  1. III.INDIKATOR SASARAN KESELAMATAN PASIEN
Kode Indikator Standar Waktu

Keterangan

Rekomendasi

 
Juli Agustus September Oktober  
SKP – 1 Persentase pasien rawat inap baru yang memakai gelang identitas sesuai standar 100 % 100 % 100 % 99,87 % 100 %

Tercapai

Lanjutkan Upaya peningkatan mutu dan MONEV

 
SKP – 2 Kepatuhan penerapan komunikasi dengan metode READ BACK pada saat pelaporan pasien dan penerimaan pasien secara verbal melalui telepon 100 % 66,39 % 71,27 % 89,11 % 83,22%

Tidak Tercapai

Implementasi PDCA dan MONEV

 
SKP – 3 Kepatuhan pemberian label obat high alert oleh farmasi. 100 % 0 % 100 % 100 % 100 %

Tercapai

Lanjutkan Upaya peningkatan mutu dan MONEV

 
SKP – 4 Kepatuhan pelaksanaan prosedur Site Marking sebelum tindakan operasi 100 % 0 % 59,25% 72,72% 87,50%

Tidak Tercapai

Implementasi PDCA dan MONEV

 
SKP – 5 Persentase kepatuhan petugas kesehatan dalam melakukan kebersihan tangan dengan menggunakan metode enam langkah dan 5 momen 80 %

terlampir

Tercapai

Lanjutkan Upaya peningkatan mutu dan MONEV

   
SKP - 6 Insiden pasien jatuh selama perawatan rawat inap di rumah sakit 0 2 1 1 0

Tercapai

Lanjutkan Upaya peningkatan mutu dan MONEV

 

Kupang, 17 November 2016

DIREKTUR

RSUD Prof. DR. W.Z. JOHANNES

drg. DOMINIKUS MINGGU, M.KES

PEMBINA UTAMA MADYA

NIP. 19600731 198812 1 001

Lampiran:

   

Berdasarkan sistem informasi rumah sakit jumlah pasien rawat jalan dan rawat inap pada kanker payudara terbanyak yaitu 12.014 orang atau 28.7 persen diikuti kanker serviks 5349 orang atau 12,8 peraen.

Demikian Panitia peringatan bulan kanker payudara, Akto Yudo Walu pada acara talk show fight against breast cancer dalam rangka memperingati bulan kanker payudara sedunia di aula RSUD johannes Kupang, Sabtu (29/10/2016).

Menurutnya di RSUD Johannes selama tahun 2015 sudah melayani kemoterapi kanker sebanyak 167 pasien diamna 28 persen adalah kanker payudara dan kanker servika 17 perawn
Menurutnya lebih daei 40 persen semua kanker dapat divegah bahkan beberapa jenis yang umum seperti kanker payudara, kolerektal dan leher rahim dapat disembuhakb jika terdeteksi dini

Status Rumah Sakit Umum (RSU) Prof. WZ. Johannes Kupang perlu dipertimbangkan agar statusnya dinaikan menjadi rumah sakit Tipe A.

Selain statusnya menjadi TIpe A, rumah sakit ini juga tetap menjadi BLUD Otonom.

Hal ini disampaikan Wakil Ketua Komisi V DPRD NTT, Yunus H Takandewa, S.Pd kepada Pos Kupang , Minggu (30/10/2016).

Menurut Yunus, dalam rapat bersama mitra dalam hal ini manajemen RSU Prof WZ. Johannes Kupang, Komisi V sudah menyampaikan hal tersebut agar dikaji lagi sehingga statusnya naik menjadi rumah sakit Tipe A dan juga tetap menjadi BLUD Otonom.

sumber : http://kupang.tribunnews.com/2016/10/30/rsu-prof-wz-johannes-harus-naik-jadi-tipe-a

RSU Prof. WZ. Johannes Kupang dalam pelayanan kasus penyakit tertentu selalu menerima rujukan pasien selain dari seluruh wilayah NTT, juga dari Timor Leste dan Maluku.

Hal ini disampaikan Wakil Ketua Komisi V DPRD NTT, Yunus H Takandewa, S.Pd kepada Pos Kupang , Minggu (30/10/2016).

Menurut Yunus, rumah sakit itu sudah menjadi rujukan untuk daratan Timor NTT sampai di negara tetangga, Timor Leste.

"Selain dari kabupaten/kota se-NTT, rumah sakit ini juga menerima rujukan pasien dari Maluku Tenggara Barat dan Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku," kata Yunus.sumber :http://kupang.tribunnews.com/2016/10/30/rsu-profwz-johannes-layani-pasien-rujukan-dari-timor-leste-dan-maluku

Para pengunjung Rumah Sakit Umum (RSU) Prof Dr WZ Johannes Kupang dilarang merokok di dalam kawasan rumah sakit tersebut kecuali di halama depan atau di sekitar halaman parkir.

Jika ada yang merokok di dalam kawasan RSU tersebut dipastikan bakal ditegur petugas security rumah sakit.

Demikian informasi dan pantauan wartawan pos kupang di kawasan RSU Prof Dr WZ Johannes Kupang, Senin (31/10/2016) siang.

Sejumlah pengunjung yang dimintai komentar mereka mengaku memahami dan tidak mempersoalkan hal tersebut.

"Kalau mau merokok kita bisa keluar ke depan di kawasan parkiran depan IRD RSU Prof Dr WZ Johannes Kupang. Kalau di dalam kawasan rumah sakit memang tidak boleh," kata seorang pengunjung bernama Arnold dan dibenarkan beberapa pengunjung lain.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, berdasarkan aturan tentang hak asasi manusia (HAM), seseorang berhak untuk menikmati hidup termasuk merokok. Karena itu, mestinya setiap kantor pelayanan public termasuk rumah sakit memiliki ruang khusus yang disiapkan bagi pengunjung yang ingin merokok.

Namun, sampai dengan saat ini RSU Prof Dr WZ Johannes Kupang belum mempunyai ruangan bebas rokok. Sehingga untuk merokok, pengunjung rumah sakit harus keluar dari kawasan RSU Prof Dr WZ Johannes Kupang.

Direktur RSU Prof Dr WZ Johannes Kupang, drg Domi Mere yang hendak dikonfirmasi, Senin (31/10/2016) siang, belum bisa ditemui karena sedang bertugas keluar daerah. Wadir Umum dan Keuangan, Ari Ondok sedang mengikuti rapat di DPRD NTT dan Wadir Pelayanan, dr Mina Sukri masih ada kegiatan lain.sumber : http://kupang.tribunnews.com/2016/10/31/rsu-kupang-belum-punya-ruang-bebas-rokok

  •  Start 
  •  Prev 
  •  Next 
  •  End 
Page 1 of 2