PANDEMI MENEPI, INFEKSI BERSEMI

Sirilus Selaka*, Alfrida M. Mooy**
(*Perawat Ruang Isolasi Komodo; Anggota Sub Komite Mutu Komite Mutu Rumah Sakit **Kepala Ruang Komodo; Anggota Sub Komite Keselamatan Pasien Komite Mutu Rumah Sakit; Koordinator Pokja Sasaran Keselamatan Pasien)

Prokes jelas
Satgas tegas
Nakes logis
Virus ludes
Larik di atas dapat diklaim sebagai senjata api pembasmi pandemi dengan analogi perang. Apakah perang telah usai? Belum. Apakah gencatan senjata telah dilakukan? Juga belum. Lalu apa dasarnya menyatakan pandemi menepi? Dasarnya jelas: Pertama, jumlah kasus COVID-19 menurun signifikan secara lokal, nasional dan global. Kedua, presiden mengizinkan lepas masker pada situasi tertentu. Ketiga, ungkapan perasaan nakes yang tertuang dalam frasa; lega walau lelah, puas walau sempat pupus dan selamat walau sekarat.

PANDEMI MENEPI, INFEKSI BERSEMI
Lega boleh, lengah jangan! Warning ini mengacu pada bangkitnya penyakit infeksi yang ber-hibernasi selama pandemi berkecamuk. Penyakit infeksi yang bersemi kala pandemi menepi adalah HIV-AIDS. Data menunjukan jumlah pasien COVID-19 dengan comorbid HIV-AIDS di Ruang Isolasi Komodo periode Januari – Mei 2022 sebanyak 5 orang dengn rincian; 2 orang meninggal, 2 orang isoman dan 1 orang masih dirawat hingga tulisan ini dibuat.
Fakta ini memaksa kita untuk menganalisisnya secara ilmiah dan non-ilmiah (klinik dan klenik). Secara klinik, kronologi dirawatnya paien-pasien HIV-AIDS di Ruang Isolasi Komodo bukan karena COVID-19. Artinya, alasan mereka datang ke rumah sakit bukan karena keluhan/gejala COVID-19 lalu didiagnosis COVID-19 melalui scrining. Proses kematian dari 2 orang pasien itu juga didominasi penurunan fungsi circulation bukan airway & breathing. Dengan demikian, ke-5 pasien ini dapat dikategorikan sebagai pasien HIV-AIDS dengan comorbid COVID-19. Secara klenik, sebelum COVID-19 muncul, HIV-AIDS adalah monster paling menakutkan yang menuntut nakes ber-APD level tertinggi (selain SARS). Begitu COVID-19 menepi maka momentum bagi HIV-AIDS untuk kembali unjuk gigi dengan menebar ancaman tertular, ketakutan distigma dan terror kematian. Seorang teman petugas kamar jenazah pernah berseloroh, “evakuasi jenazah COVID-19 + HIV-AIDS itu butuh persiapan fisik, psikis dan spiritual”.
Sekali lagi, lega boleh, lengah jangan! Sekalipun pandemi menepi sampai pergi, status purna vaksin bagi nakes sampai semua lapisan masyarakat tetapi antisipasi mesti terpatri sebagai mitigasi bencana yang datang bagai pencuri. HIV-AIDS sebagai mantan musuh yang kembali bersemi mesti dapat diperangi dengan lebih mudah daripada COVID-19. Secara klinik, HIV-AIDS adalah penyakit infeksi menular dan secara klenik, HIV-AIDS termasuk penyakit sosial-spiritual ‘kena karma’ atas dosa seksual. Kolaborasi petugas klinik dan klenik demi pencegahan dan pengobatan adalah kunci sukses agar pasien HIV-AIDS patuh padah titah, bertobat, berobat dan bersahabat. Salam Sehat.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *